119. 175 Narapidana Dapat Remisi HUT RI ke-75

Merdeka. com – 119. 175 Narapidana dan bujang yang tersebar di seIuruh Indonesia menerima Remisi Umum (RU) tahun 2020 pada peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-75 Republik Indonesia. 1. 438 Narapidana di antaranya dapat langsung menghirup udara manasuka setelah menerima RU ll, namun 117. 737 narapidana lainnya menyambut pengurangan masa hukuman atau RU I yang besarannya bervariasi mulai dari 1 bulan hingga 6 bulan.

“Remisi dikasih sebagai wujud apresiasi terhadap penerimaan perbaikan diri yang tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari tahanan. Jika mereka tidak berperilaku bagus maka hak remisi tidak hendak diberikan, ” ujar Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjenpas) Reynhard Silitonga di dalam keterangannya, Senin (17/8).

Reynhard menyampaikan hal tersebut pada upacara peringatan HUT ke-75 RI sekaligus pemberian remisi kepada narapidana dl Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kuripan, Lombok Barat. Dia mengutarakan remisi diberikan kepada seluruh tahanan yang telah memenuhi persyaratan administratif dan substantif, di antaranya telah menjalani pidana minimal 6 kamar dan tidak terdaftar pada register F (buku catatan pelanggaran peraturan narapidana), serta aktif mengikuti program pembinaan di Lapas, Rutan, atau Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA).

Adapun pemberian Remisi Umum Kemerdekaan Republik Indonesia ke-75 Tahun 2020 menghemat pengeluaran kekayaan negara dengan memangkas anggaran dahar narapidana hingga lebih dari Rp176 miliar. Penghematan anggaran makan 117. 737 orang narapidana penerima RU I mencapai Rp173. 258. 730. 000.

Sedangkan penghematan anggaran makan 1. 438 karakter narapidana penerima RU II mencapai Rp3. 003. 900. 000, sehingga total penghematan anggaran makan narapidana mencapai Rp176. 262. 630. 000.

Sementara itu, Gajah Hukum dan HAM (Menkum HAM), Yasonna H Laoly dalam sambungan teleconfrence menyampaikan bahwa remisi ialah salah satu sarana hukum yang sangat penting dalam mewujudkan bahan sistem pemasyarakatan, yakni sebagai motivasi perbaikan diri dan mental untuk narapidana untuk menjadi manusia dengan lebih baik dari sebelumnya.

Pemberian remisi kepada tahanan, kata dia, merupakan bagian serta perwujudan tujuan sistem pemasyarakatan. Tidak hanya sekadar pemenuhan hak oIeh negara kepada para narapidana, tetapi juga apresiasi kepada mereka yang telah melewati ujian panjang pemidanaan dengan perbaikan kualitas pribadi dan mental serta berkelakuan baik semasa masa pembinaan.

“Melalui pemberian remisi ini diharapkan semesta warga binaan selalu patuh dan taat kepada hukum dan kaidah yang ada sebagai bentuk tanggung jawab kepada Tuhan YME maupun sesama manusia, ” ucap Yasonna.

Remisi atau pengurangan masa pidana diberikan kepada narapidana sebagaimana diatur dalam Undang-Undang MENODAI Nomor 12 Tahun 1995 mengenai Pemasyarakatan

Kemudian Susunan Pemerintah (PP) Nomor 32 Tarikh 1999 tentang Syarat dan Norma Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan, Perubahan Pertama: PP Nomor 28 Tahun 2006, Perubahan Kedua: PP Nomor 99 Tahun 2012, Keputusan Presiden Nomor 174 Tahun 1999, serta Peraturan Menteri Nomor 3 Tahun 2018 tentang pemberian Remisi kepada Warga Binaan Pemasyarakatan. [eko]