3 Fenomena Alam Diprediksi Bakal Landa Bogor

Merdeka. com – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, adanya tiga fenomena alam yang akan terjadi bersamaan di wilayah Bogor dan sekitarnya. Untuk itu, tempat meminta semua pihak tetap waspada dan mengantisipasinya.

Dia mengungkapkan, fenomena La Nina yang diprediksi akan menyebabkan terjadinya pengembangan akumulasi curah hujan bulanan dalam Indonesia.

La Nina merupakan anomali sistem iklim global yang terjadi dengan periode ulang berkisar antara 2-7 tahun dalam Samudra Pasifik dan atmosfer, langit di atasnya berubah dari laksana netral (normal) serta minimal berlangsung selama 2 bulan.

Berdasarkan prediksi dan data suhu muka air laut yang berkecukupan jauh di Samudra Pasifik, tinggi Dwikorita, dampaknya bisa sampai ke Bogor.

“Kebetulan masa ini sedang mengalami peningkatan curah hujan. Artinya, terjadi dobel. Tidak ada La Nina saja, Enau ini juara, curah hujannya mulia, ” ujar Dwikorita saat kegiatan siaga bencana hidrometeorologi di Telaga Saat Puncak, Bogor, Selasa (20/10).

Apalagi terjadi La Lina, kata dia, akumulasi curah hujan akan naik 20-40 tip. Pada fenomena La Nina yang terjadi adalah pendinginan yang tidak biasa, yaitu anomali suhunya melebihi -0. 5 derajat celcius di area yang sama.

“Suhu muka air laut di Samudera Pasifik mengalami anomali. Masa ini sudah minus hampir mencapai 1 derajat celcius. Sementara guru muka air laut di kepulauan maritim Indonesia hangat. Maka terjadilah gap antara suhu muka air laut di Samudera Pasifik bagian tengah ekuator dengan Kepulauan Nusantara, ” terangnya.

Tak hanya itu, pada pekan tersebut akan masuk gelombang awan sebab sebelah Timur Afrika Selatan mendatangi wilayah Indonesia yang disebut wujud Madden Julian Oscillation (MJO).

MJO ini merupakan rangkaian uap air (awan) yang artinya uap air di wilayah Riau meningkat jumlahnya, sehingga pertumbuhan awan cukup bagus. Diprediksi potensi terjadinya hujan dengan intensitas tinggi, puncaknya di bulan Desember 2020, serta Januari dan Februari 2021.

“Artinya di minggu tersebut ada 3 fenomena bersinergi. Bersinergi ya itu fenomena La Nina, fenomena MJO, dan fenomena curah hujan aslinya di Bogor, ” ungkapnya.

Untuk tersebut, semua pihak diminta menyiapkan muncul mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi.

“Tetapi khusus minggu ini, meskipun belum memasuki puncaknya, ada tiga faktor yang bersinergi tadi. Semoga penghijauan ini dapat membantu kita semua, ” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jabar, Uu Ruzhanul Ulum mengatakan, setiap musim hujan, Jawa Barat tidak lepas dari kesedihan alam. Baru beberapa hari mendarat hujan, sudah terjadi bencana.

“Banjir bandang ada 4 kali, ada banjir genangan datang 11 wilayah dan juga terbis 11 kejadian dan angin pangkal beliung 5 kejadian, ” katanya.

Dia menerangkan, kesedihan yang terjadi selama ini lupa satu faktor penyebabnya akibat kebobrokan alam yang dilakukan oleh kelakuan manusia sendiri.

“Sudah jelas kerusakan di muka bumi ini, baik di lautan & daratan karena tangan-tangan manusia. Maka Alhamdulillah Pak Jenderal hari tersebut ada kegiatan yang sangat asing biasa sebagai langkah antisipasi, ” tutupnya.

Reporter: Achmad Sudarno
Sumber: Liputan6. com [fik]