Cerita Jurnalis Terpapar Covid-19: Kangen Anak dan Kehilangan Ayah Akibat Corona

Merdeka. com awut-awutan Seorang pewarta RRI Semarang Pradityo Utomo (26) sempat dirawat di rumah melempem Williamboth karena terpapar covid-19 sudah melakukan peliputan. Selama perawatan, Adit mengaku hanya bisa terbaring lesu di ruangan seorang diri merasakan kesakitan saat virus Corona menggenjot tubuhnya.

Syok, sedih, dan stres menyesaki pikiran dan hatiPradityo disunyinya ruangan isolasi. Dia berharap diberikan kesembuhan agar mampu kembali bersama keluarga.

“Badan ketika itu demam luhur 40 derajat tidak kunjung mendarat, dan paling parah sesak nafas. Beruntung saya cepat ditangani medis, sebab kondisi saat itu telah secara klinis positif. Saya tidak bisa bayangkan kalau terlambat penanganannya bagaimana keadaan saya saat itu, ” kata Pradityo saat berbincang pengalaman kondisi terpapar Corona, Minggu (22/11).

Awal mula terserang Corona, Pradityo mengaku kala sedang meliput kegiatan pertempuran lima hari di Semarang 15 Oktober 2020. Pada waktu itu semangat hujan tinggi membuat beberapa orang lainnya berteduh yang menimbulkan kelompok di tenda.

Keesokan harinya kondisi kesehatannya menurun. Tiba demam tinggi dan lemas disertai sesak nafas, oleh orangtuanya diminta untuk memeriksakan diri ke sendi sakit dan di swab buatan positif.

“Langsung ana diisolasi di ruang perawatan. Dalam ruangan sendirian tidak ada per, sedih rasanya. Mau beranjak wadah tidur rasanya tubuh ini tidak kuat masih sesak untuk nafas saat itu aktivitas yang dilakukan cuma minum obat vitamin C dan penurun panas, ” ujarnya.

Selama perawatan saksama ruang isolasi khusus, Pradityo merasakan tidak bisa melepas rasa cinta kepada keluarga khusunya anak yang masih berusia tiga bulan. Tempat hanya bisa berdoa memohon kesembuhan.

“Kalau dibilang kangen, ya kangen sekali. Terbaring lemas, yang bisa saya lakukan hanya mainan handpone, video call serupa keluarga, ” jelasnya.

Dia sangat menyesalkan pihak Dinkes lambat dalam melakukan tracking pada keluarga. Justru, penelusuran tracking, setelah Pradityo sudah dalam keadaan pindah perawatan di rumah dinas Pemangku Kota Semarang kurang lebih semasa 10 hari.

“Respons terlambat saya dirawat rumah sakit lima hari. Perawatan sudah tukar rumdin, tracking keluarga baru dilakukan D inkes. Akhirnya hasil tracking keluarga non reaktif, diminta buat karantina mandiri di rumah, ” jelasnya.

Setelah dekat 10 hari dilakukan perawatan dalam rumah dinas, dan beberapa hasil swab negatif akhirnya diperbolehkan kembali. Bukannya senang, justru mendapat kabar sang ayah terkonfirmasi positif covid-19 setelah melakukan perjalanan luar praja. Dirawat di rumah sakit Wongsonegoro Semarang dari tanggal 2 November 2020.

“Kondisi periode itu informasinya ayah di UGD masih sempat whatsapp sama beta. Dia bilang baik-baik dan hanya sesak saja, tapi beberapa hari kok sudah tidak sadarkan muncul, ” terangnya.

Sejak keluarga merasakan kecemasan terlebih si ayah tidak boleh dijenguk. Selama delapan hari dirawat, pihak panti sakit mengabarkan sang ayah wafat dunia pada 10 November 2020 pukul 21. 30 wib. Lantaran perwakilan keluarga yang datang langsung diminta memandikan jenazah.

“Saya masih heran, kenapa ayah meninggal terkonfirmasi positif, tapi pihak keluarga keponakan ayah suruh membersihkan jenazah. Dari keluarga hanya pakai masker saja. Kenapa tidak sejak pihak rumah sakit, ” ujarnya.

Usai dimandikan, sebab pihak rumah sakit mengantarkan jenazah ke pemakaman. Anehnya hanya sopir ambulance dan pihak Satpam yang mengantarkan tanpa mengenakan pakaian APD.

“Saya tahu piawai itu pakai seragam biasa. Bahkan yang ngangkat peti sampai menurunkan ke liang lahat dari bagian keluarga. Saya sekeluarga ikut kirab pemakaman dini hari dengan aturan kesehatan pakai masker, ” katanya. [ded]