Mencetak Jejak Doni Manardo, Letjen TNI Cinta Lingkungan Diberi Gelar Kehormatan IPB

Merdeka. com – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Manardo menerima menyelenggarakan kehormatan Doktor Honoris Causa dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Penganugerahan gelar ahli kehormatan tersebut dipimpin langsung oleh Rektor IPB Cendekia Satria yang disiarkan tepat di youtube IPB TV hari ini, Sabtu (27/3).

Arif mengutarakan bahwa Penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa Doni Monardo ini tertuang dalam kesimpulan senat akademik Institut Pertanian Bogor Nomor 21/IT3. SA/PT/2020 dan telah diputuskan sejak Rapat Pleno Senat Akademik (SA) IPB pada Oktober 2020.

Kongres Akademik IPB menilai tersedia lima rangkaian kegiatan kelakuan luar biasa yang dikerjakan Doni. Yang pertama, Doni dinilai telah membangkitkan afeksi lingkungan dan memberikan pelatihan keterampilan (environmental awareness and training).

Doni juga dianggap telah membentuk jejaring kerja kolaborasi pentahelix dan memobilisasi sumber daya. Ketiga, memulihkan dan meremajakan keanekaragaman hayati spesies serta ekosistem. Keempat, membangun kolaborasi penegakan hukum, dan belakang, Ketua Satgas Covid-19 tersebut dinilai telah berhasil melaksanakan advokasi kebijakan.

Seperti yang diketahui, pra menjabat sebagai Kepala BNPB dan Ketua Satgas, Doni memiliki rekam jejak dengan panjang hingga dirinya mencintai lingkungan.

Pada acara penganugerahaan gelar kehormatan itu, IPB menayangkan gambar rekam jejak/ kiprah Doni di bidang lingkungan. Di video itu terungkap bahwa selama bertugas di Kopassus, hampir 50 persen kehidupan Doni dilakukan di hutan.

Dalam jalan itu, Doni mengaku betul berterima kasih dengan tempat. Menurutnya, manusia tidak mampu hidup tanpa alam. Berangkat dari bernafas, makan, minum, hingga menjalankan berbagai acara lainnya kata Doni, semua bisa dilakukan berkat adanya hutan.

Kepala Satgas Covid-19 itu pula mengaku banyak diselamatkan serta diberikan kesempatan hidup oleh alam. Dia menceritakan pengalamannya yang tidak pernah dia lupakan yang pernah dia alami di hutan di tahun 1988.

“Jadi ada pohon gede dan di bawahnya tersedia lubang. Saya masuk ke dalam lubang itu. Ketika pecahan roket menerpa bagian atas kepala saya, lempengan besi cukup banyak. Artinya kalau saya tidak masuk di bagian dalam pokok kayu, mungkin sebagian badan kami sudah terkena potongan peluru. Saya bisa selamat sebab ada pohon besar. Oleh sebab itu saya berutang budi pada pohon-pohon itu, ” ujarnya.

Seperti yang diketahui, Doni dikenal jadi sosok pimpinan TNI dengan gemar menanam pohon Trembesi. Kegemarannya itu muncul saat kegiatan penanaman pohon dengan dilanjutkan dengan pembibutan trembesi di lahan tandus Asrama Brigif Para Raider III, Tri Budi Sakti Kostrad di Kariango, Sulawesi Selatan.

Kemudian di dalam tahun 2001, saat tempat menjadi Paspampres, Doni mengatakan bahwa setidaknya selalu tersedia tiga jenis pohon dengan ditanam untuk penghijauan setiap kali ia melakukan lawatan kerja ke daerah. Ke-3 tanaman itu yakni Trembesi, Asam, dan Beringin. Sejak saat itulah dirinya berangkat mencaritahu dan memperlajari tentang pohon Trembesi.

“Pohon ini termasuk jenis tanaman die hard. Artinya dapat tumbuh di wadah yang tandus ataupun dalam tempat lembab, atau pada daerah tropis yang bisa tumbuh hingga ketinggian 600 meter diatas permukaan laut, sehingga sangat cocok untuk penghijauan kota, ” ujarnya.

“Diperkuat dengan hasil penelitian Dosen Fakultas Kehutanan IPB, Doktor Endes N. Dahlan yang mengutarakan bahwa pohon Trembesi ialah penyerap polutan terbaik. Satu pohon Trembesi mampu menyerap polutan sebanyak 28, 5 ton per tahun, ” sambungnya.

Doni pun berkomitmen untuk langsung menanam tanaman, khususnya Pohon Trembesi. Pada November 2008, Doni membuat kebun punca Trembesi di Cikeas. Lalu pada Hari Kemerdekaan MENODAI di tahun 2009, keturunan Trembesi dibagikan di Istana Merdeka.

Kemudian, tahun 2010 Doni memajukan kebun bibit di Rancamaya. 100. 000 bibit Trembesi ditanam di wilayah Bogor, Cianjur dan Sukabumi, & DKI Jakarta termasuk dalam sepanjang Kota Kudus, Jawa Tengah. Sebanyak 100 seperseribu bibit Sengon juga dibagikan secara gratis kepada kelompok termasuk warga terdampak erupsi Gunung Merapi di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Doni kemudian menyelenggarakan Paguyuban Budidaya Trembesi (Budiasi) pada tahun 2011. Pagyubuan itu didirikan di Sentul, di lahan pinjaman milik Ketut Masagung.

“Sampai hari ini Paguyuban Budiasi telah memproduksi bertambah dari 20 juta pokok kayu yang terdiri dari 150 jenis pohon, termasuk flora langka, yang dibagikan ke berbagai daerah termasuk Timor Leste, ” ujarnya.

Kemudian ketika tempat menjabat sebagai Pangdam III/Siliwangi pada tahun 2017-2018, Doni membuat program Citarum Terkenal. Nama Citarum Harum serta strategi penanganannya diusulkan Doni Monardo kepada Gubernur Jawa Barat Ahmad Heriawan dalam perjalanan dari pendopo gubernur menuju Waduk Jatigede di dalam 28 November 2017.

Doni juga mengadukan kepada Presiden Jokowi tentang Citarum pada 4 Desember 2017. Menurutnya, perlu ada payung hukum agar TNI bisa tetap ikut membangun memulihkan Citarum.

Pada 22 Februari 2018, Presiden Jokowi mendeklarasikan agenda Citarum Harum di Situ Cisanti, salah satu lupa air purba di Menjelajahkan. Kurang dari sebulan, Kepala Jokowi meneken Perpres Nomor 15 Tahun 2018 tanggal 15 Maret 2018

Dia bercerita, kalender tersebut muncul karena dia mendapat banyak laporan kalau sungai Citarum merupakan kali terkotor di dunia.

“Ketika pertama kala memberikan pengarahan kepada staf di Makodam III/Siliwangi, kami sampaikan tentang nama gede Siliwangi di berbagai medan penugasan. Baik di dalam maupun luar negeri. Roman sekali jika nama gembung itu hilang karena tak peduli dengan persoalan yang ada di depan gegabah, yaitu Citarum sebagai sungai terkotor di dunia, ” katanya.

Oleh karena itu, di tarikh 2017, Kodam III Siliwangi bersama tim Kemenko Marvest, Pemprov Jabar, dan Polda Jabar, di bawah bimbingan Menko Marvest Luhut Binsar Pandjaitan berkumpul menghimpun masukan-masukan dari segenap komponen asosiasi, tokoh agama, budayawan, relawan, pegiat lingkungan, bahkan jalan.

Konsep regulasi yang dimotori Dr Pra Dewi yang didukung tim hukum Sekretariat Negara kesudahannya menjadi Perpres Nomor 15 Tahun 2018 tanggal 15 Maret 2018 Tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kebobrokan Daerah Aliran Sungai Citarum.

“Tiada keadaan libur bagi kami, pada setiap harinya Kodam III Siliwangi bersama Kemko Marvest, Pemprov Jabar, Polda Jabar, serta komponen masyarakat yang terdiri dari tokoh agama, budayawan, relawan, pegiat lingkungan, dan media, kita semua memikirkan strategi menuntaskan masalah keburukan ekosistem Citarum, ” kata Doni [ded]