Pecatan Brimob Bantah Rampas Senjata serta Tembak Polisi di Medan

Merdeka. com – Polisi memaparkan kasus penembakan terhadap personel Polsek Medan Barat, Aiptu Robin Silaban. Kapolrestabes Kawasan Kombes Pol Riko Sunarko menyatakan pelaku, Kamiso (45), ditembak ke-2 kakinya karena melakukan perlawanan, sebaliknya Kamiso mengaku ditembak dalam perihal mata tertutup.

Kasus itu dipaparkan di hadapan wartawan di Mapolrestabes Medan, Selasa (3/11). Kamiso dibawa dengan kursi roda. Kedua kakinya yang diperban karena luka tembak, bahkan kaki kanannya diberi penyangga.

Sebelum konferensi pers, Kamiso yang ditanyai wartawan mengaku menyerahkan diri kepada personel Polsek Percut Sei Tuan di Desa Sampali, Kabupaten Deli Serdang. Dia melakukannya tak periode setelah penembakan terhadao Robin. Tempat juga membawa barang bukti senjata api berjenis revolver yang dirampas dari personel ke polisi an itu.

Setelah menyerahkan diri, Kamiso kendati dibawa ke Polsek Percut Sei Tuan. Dua hari kemudian, tempat dibawa polisi untuk mencari kehadiran rekannya yang diduga terlibat di pertikaian itu. Matanya ditutup. “Setelah menyerahkan diri. Saya tidak tahu ditembak di mana (lokasinya), ” ujarnya.

Setelah memberi keterangan itu kepada wartawan, Kamiso yang awalnya berada di pelataran Polrestabes Medan, lokasi konferensi pers, buru-buru dibawa polisi ke dalam lobi Mapolrestabes Medan. Dia perdana dibawa kembali ke lokasi pemaparan itu setelah Kapolrestabes Medan Kombes Riko Sunarko tiba di tempat.

Sementara, Riko mengatakan pihaknya terpaksa menembak kaki Kamiso, karena tersangka mencoba merampas senjata milik petugas saat dilakukan pengembangan kasus. Dia juga membantah Kamiso menyerahkan diri. Alasannya, tersangka tidak datang ke kantor polisi, memperbedakan diamankan di pinggir Jalan Sampali.

“Tersangka kita menimbulkan menunjukkan rekan-rekannya, termasuk tempat tinggalnya. Namun berulah kembali berusaha merebut senjata anggota kita yang mengontrol yang bersangkutan. Kita berikan tindakan tegas terukur dengan melumpuhkan dengan bersangkutan, ” jelas Riko.

Setelah konferensi pers, Kamiso kembali membantah dia mencoba merampas senjata milik petugas saat perluasan kasus. Dia terus membantah berulang kali sembari diboyong ke ruang tahanan.

Penembakan terhadap kaki Kamiso ini sempat memiliki protes dari seseorang dengan akun Adinda Putri Nur Az-Zahra. Hawa yang mengaku sebagai istrinya ini memposting foto Kamiso yang diperban kedua kakinya. Dia mempertanyakan penembakan terhadap suaminya, padahal pria tersebut sudah menyerahkan diri.

Seperti diberitakan, penembakan terhadap Aiptu Robin Silaban terjadi di wadah pencucian mobil dan bengkel di Jalan Gagak Hitam, Selasa (27/10). Dalam pertikaian yang terjadi pada sana, Kamiso merampas senjata korban lalu menembakkannya. Peluru menembus dada kanan hingga ke paru-paru objek.

Riko mengatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait motif penembakan itu. Terlebih Aiptu Robin masih dalam kondisi kritis.

Berdasarkan keterangan sementara, tersangka mengaku disuruh seorang perempuan berinisial NWT untuk menjemput dua karakter bernama Kadeo dan Irvan di tempat pencucian mobil itu. Sesampainya di sana, Kamiso bersama lima temannya langsung membuat keributan serta perusakan.

“Anggota kami yang kebetulan ada di danau yaitu Saudara Robin mengingatkan dengan bersangkutan, namun ia tetap melayani aksinya merusak yang di bengkel tersebut. Kemudian anggota memberikan tembakan peringatan ke bawah. Dan lengah (Kamiso) terserempet peluru. Namun dengan bersangkutan berpura-pura mengajak anggota kata baik-baik dengan anggota kita, tetapi setelah dekat justru memukul lengah anggota kita menggunakan double stick, ” jelas Riko.

Kamiso langsung merebut senjata obor milik Robin yang terjatuh. Simpulan menembaknya.

Setelah menujukan di bagian dada Robin, sendat Riko, Kamiso mengarahkan senjata elektrik rampasan itu ke kepala target. Namun senjatanya tidak meletus. “Itu berdasarkan keterangan saksi di TKP, ” terang Riko.

Riko mengakui Kamiso merupakan tanda personel Brimob. “Itu 21 tarikh lalu. Gak tau benar barang apa tidak. Kita sedang cek. Informasinya karena melawan komandan kompi, lalu disersi dan dilakukan PTDH atau pemberhentian dengan tidak hormat, ” jelasnya.

Tiga teman Kamiso masih diburu petugas. Mereka masing-masing: AM (45), EN (35), dan HA (30) yang adalah putra dari NWT. Riko meminta abgar tersangka lainnya untuk menyerahkan diri. “Segera menyerahkan diri. Tentu kami kejar. Dan kita bakal lakukan tindakan tegas, ” jelas Riko. [gil]