Pembicaraan Jenderal Polisi di Kasus Djoko Tjandra, Nilainya Miliaran

Merdeka. com – Drama pelarian buronan Djoko Tjandra berbuntut pada kasus uang sogok yang melibatkan 3 jenderal polisi . Nilai uang sogok itu disebut-sebut bernilai miliaran. Uang sogok diberikan Djoko Tjandra untuk memuluskannya keluar masuk Indonesia meski berstatus buron Kejaksaan Agung (Kejagung).

Jenderal Polri pertama yang terlibat dalam kasus suap ini adalah Brigjen Prasetijo Utomo. Dia menjabat sebagai Kepala Biro Koordinasi dan Pengawasan PPNS Bareskrim Polri. Keterlibatannya pada kasus suap Djoko Tjandra berujung pada pencabutan bagian terhadap jenderal bintang satu tersebut pada 15 Juli lalu. Dalam bulan yang sama, tepatnya agenda 31, mulai dilakukan penahanan terhadap Prasetijo.

Latar pungkur keterlibatan Prasetijo dengan Djoko Tjandra adalah ketika ia mengurus tulisan jalan palsu segera Djoko Tjandra. Surat jalan palsu ini pula menyebutkan bahwa pekerjaan Djoko Tjandra adalah sebagai konsultan Bareskrim. Tulisan jalan ini kemudian digunakan Djoko Tjandra untuk berangkat dari Jakarta ke Pontianak pada 19 Juni serta kembali lagi pada 22 Juni.

Selain surat ulama, Prasestijo juga membantu Djoko Tjandra dalam pembuatan surat sehat berkop Polri yang diterbitkan pada 19 Juni. Surat sehat ini membuktikan bahwa Djoko Tjandra bebas Covid-19. Tak sampai di situ, Prasetijo juga mengawal perjalanan Djoko Tjandra saat menggunakan jet pribadi dari Jakarta ke Pontianak.

Kasus suap dilakukan Djoko Tjandra juga melibatkan dua jenderal petugas lainnya. Mereka adalah Irjen Napoleon Bonaparte yang saat itu menjabat sebagai Kadiv Hubinter Polri dan Brigjen Nugroho Slamet Wibowo dengan saat itu menjabat sebagai Ses NCB Interpol Indonesia Div Hubinter Polri. Keduanya terlibat dalam telaahan penghapusan red notice Djoko Tjandra. Dalam kasus keduanya polisi mengambil 20. 000 dolar Amerika sebagai barang bukti kasus suap.

Dalam kasus suap red notice ini, Tim hukum Bareskrim Polri menjelaskan bahwa pada awalnya pihak Djoko Tjandra menawarkan kekayaan sebesar Rp 3 miliar, hendak tetapi nilai tersebut kemudian cabar dan akhirnya Napoleon menyepakati di angka Rp 7 miliar. Kekayaan suap sebesar Rp 7 miliar ini kemudian diberikan secara berangsur-angsur dari April hingga Mei di dalam bentuk dolar Amerika dan dolar Singapura.

Terkait urusan suap ini, Napoleon dan Prasetijo telah mengakui menerima uang dari Djoko Tjandra. Meski demikian, pihaknya akan tetap melakukan klarifikasi dengan sejumlah alat bukti lain.

Reporter Magang: Maria Brigitta Jennifer [gil]