Perhatikan, Protokol Kesehatan saat Mencoblos dalam Pilkada

Merdeka. com – Penetapan kepala daerah atau Pilkada digelar hari ini, Rabu (9/12). Pilkada kali ini dilakukan serentak di 270 provinsi, kabupaten dan praja yang melibatkan 100. 359. 152 pemilih dalam Daftar Pemilih Langgeng atau DPT.

Pilkada 2020 ini berlangsung di tengah pandemi Covid-19. Karena itu, pelaksanaannya harus mengikuti panduan protokol kesehatan tubuh sehingga terhindar dari Covid-19.

Juru Bicara Satuan Perintah Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, mengatakan, protokol kesehatan harus diterapkan penyelenggara Pilkada maupun pemilih. Petugas di tempat pemungutan suara (TPS) juga harus menjalani testing (pemeriksaan) sebelum bertugas.

“Pastikan mereka yang bertugas adalah sehat, ” tegas Wiku, Kamis (3/12).

Wiku meminta penyelenggara Pilkada menyediakan tempat cuci tangan dan hand sanitizer pada TPS. Sementara petugas dan pemilih wajib menggunakan masker dan mengelola jarak.

“Periksa guru tubuh pemilih sebelum masuk ke TPS untuk memastikan pemilih di dalam keadaan sehat, ” sambungnya.

Ketua Komisi Pemilihan Ijmal (KPU), Arief Budiman, menjelaskan, ada sejumlah protokol kesehatan yang kudu dilaksanakan petugas Kelompok Penyelenggara Pengumpulan Suara (KPPS) maupun pemilih masa pencoblosan. Pertama, sebelum memasuki TPS, pemilih wajib mencuci tangan dengan sabun di air mengalir dengan sudah disediakan petugas.

Bila daerah tersebut kesulitan mendapatkan air, penyelenggara akan menyediakan hand sanitizer. Selain cuci tangan secara sabun, pemilih wajib memakai masker saat datang ke TPS.

Setiba di TPS, pemilih harus menjalani pengecekan suhu tubuh. Bila suhu tubuh pemilih lebih dari 37, 3 derajat Celcius, petugas KPPS akan mengarahkan ke bilik khusus.

Usai pengecekan suhu tubuh, pemilih akan diberi sarung tangan plastik seluruhnya pakai. Pemberian sarung tangan plastik ini bertujuan untuk menjaga kebersihan tangan sehingga tidak terjadi transmisi Covid-19 di TPS.

“Setiap dia masuk, mulai daripada menyentuh kertas, surat suara, instrumen coblos, sudah dengan sarung tangan plastik, ” kata Arief.

Setelah mencoblos, pemilih kudu membuang sarung tangan plastik yang sudah digunakan ke tempat sampah. Selanjutnya, jari pemilih diberi tinta tanda sudah mencoblos. Pemberian tinta ini tidak seperti sebelum pandemi Covid-19 dengan mencelupkan jari ke botol.

“Kami berikan metode lain dengan cara tetes dengan pipet tinta itu, ” jelasnya.

Sementara aparat KPPS menerapkan protokol kesehatan secara menggunakan sarung tangan karet, pokok, face shield atau pelindung paras. Kemudian menggunakan masker, hand sanitizer hingga mengkonsumsi vitamin untuk melindungi imunitas tubuh. [rnd]