Peristiwa Antigen Bekas, Polri akan Awasi Ketat Penggunaan Metode Test Pendeteksi Covid

Merdeka. com – Bareskrim Polri akan melangsungkan pengawasan ketat terhadap alat-alat tes pendeteksi Covid-19. Kejadian ini untuk menghindari adanya kejadian serupa pada pengungkapan kasus penggunaan alat ulangan antigen bekas di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara.

“Ya akan awak awasi, ” kata Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto, Sabtu (1/5).

Mantan Kabaharkam Polri menyuarakan, kasus penggunaan alat ulangan antigen bekas ini turut menjadi perhatian berbagai pihak. Kejadian ini, lanjut Agus, turut menjadi momen bagi instansi terkait untuk berbenah.

“Kejadian kemarin tentu bukan hanya menjelma perhatian penegak hukum, tapi juga pihak Kimia Farma juga akan berbenah, ” sebutnya.

Secara adanya kejadian tersebu, asosiasi diimbau untuk ikut cermat sebelum melakukan tes swab antigen Covid-19. Kalau perlu, masyarakat minta diperlihatkan media tesnya oleh petugas untuk membuktikan bahwa alat tersebut bukan bekas pakai.

“Masyarakat yang bakal di-swab antigen harus memperhatikan, kalau perlu minta diperlihatkan alat yang akan dipergunakan, yang baru pasti di dalam kemasan, bukanya di ajaran konsumen, ” tutupnya.

Sebelumnya, Lima orang yang merupakan karyawan dari PT Kimia Farma Diagnostika ditetapkan sebagai tersangka di dalam kasus daur ulang juru bicara rapid test antigen di Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut).

Kapolda Sumut Irjen RZ Panca Anak mengatakan, salah satu tersangka berinisial PM merupakan nalar pelaku daur ulang juru bicara rapid test antigen bekas tersebut.

“PM, DJ, SP, MR serta RN. PM menjadi tokoh pelaku, ” kata Panca di Mapolda Sumut, Kamis (29/4).

Longok menjelaskan, PM merupakan pemangku tugas kepala cabang laboratorium Kimia Farma Medan berperan menyuruh melakukan penggunaan lidi kapas atau biasa dikenal cutton bud swab antigen bekas.

Sedangkan, peran tersangka lainnya yakni SR berperan sebagai pengangkut cutton bud swab antigen bekas yang telah diolah dan dikemas ulang serta membawanya dari Bandara Kualanamu ke laboratorium Kimia Farma.

Lalu, DJ, berperan melakukan daur ulang cutton buds swab antigen bekas menjadi seolah-olah hangat. Kemudian, MR, berperan dengan melaporkan hasil swab test (tes usap).

“Sedangkan, RN, berperan sebagai admin hasil tes usap antigen di posko pelayanan pemeriksaan Covid-19 Kimia Farma Bandara Kualanamu, ” jelasnya.

Para tersangka itu dijerat dengan pasal berlapis yakni Pasal 98 ayat (3) Jo bab 196 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan pidana penjara memutar lama 10 tahun & denda paling banyak Rp1 miliar.

Lalu, Pasal 8 huruf (b), (d) dan (e) Jo Pasal 62 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman pidana kurungan paling lama lima tarikh dan denda Rp2 miliar. [bal]