Perjuangan Petugas Pemakaman Hingga Seberangi Sungai Membawa Jenazah Pasien Covid-19

Merdeka. com – Dedi Darmadi & kawan-kawan tak pernah membayangkan akan menjalani pekerjaan sebagai penggali kubur jenazah pasien Corona Virus Disease (Covid-19) yang meninggal dunia di Kota Padang, Sumatera Barat.

Tenaga kontrak di Biro Lingkungan Hidup Kota Padang ialah tangan terakhir yang rela main menantang risiko. Mereka menggali kubur, hingga memakamkan warga yang berpulang ke haribaan sang Pencipta.

Dedi diselimuti kekhawatiran sebab pekerjaan mereka tergolong berisiko dan rentan tertular Covid-19. Tak cuma itu, dia dan rekan-rekannya juga kerap mendapatkan pengucilan dari bervariasi pihak karena dinilai dapat menularkan Covid-19.

Dilansir Kurun, Minggu (29/11), Dedi berbagi rencana awal mula memutuskan ikut saham sebagai pejuang Covid-19. Saat itu dia mendapatkan tawaran dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup Mairizon.

“Bagaimana kalian sanggup?, ” tanya Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang ketika itu.

Dedi ikhlas menjalankan tugas yang lumayan berat. Dalam pikirannya, kalau bukan mereka, siapa teristimewa yang akan menggali makam dan menguburkannya. Akhirnya pada 16 April 2020, Dedi mendapatkan tugas pertama menggali dan memakamkan jenazah Covid-19 di Kabupaten Pasaman.

Dedi bersama tim berangkat menggunakan Alat Pelindung Diri lengkap berangkat dari baju hazmat hingga masker. Karena pemakaman di tanah kerabat, lokasinya cukup sulit dan harus melewati jurang. Namun dia serta kawan-kawan berupaya menjalankan tugas secara baik kendati harus memanggul kotak jenazah yang lumayan berat dengan jarak yang cukup jauh.

Sepulang memakamkan jenazah pertama, Dedi tak berani pulang ke rumah. DIa khawatir menularkan Covid-19 kepada istri dan anaknya. Akhirnya untuk sementara waktu Dedi mengabulkan isolasi mandiri. Istrinya dengan taat mengantarkan pakaian setiap hari dengan digantung di pagar.

Setelah dua minggu berlalu mengabulkan isolasi mandiri dan dirasa kedudukan fisiknya baik-baik saja baru Dedi berani pulang. “Rasanya berat sekadar waktu itu, istri dan anak sudah mau pulang kampung selalu, ” katanya.

Setelah itu dia kembali menjalankan suruhan rutin menggali makam dan menguburkan jenazah. Di Padang, pemerintah Praja menetapkan TPU Bungus Teluk Penggal sebagai pemakaman khusus Covid-19.

Dedi menceritakan, warga setempat langsung lari terbirit-birit karena ketakutan saat melihat mobil jenazah melintas. Apalagi setelah personel turun menggunakan pakaian hazmat serba putih. Tidak ada yang berani mendekat. Tak hanya itu kawan-kawan lainnya selalu mendapatkan pengucilan di lingkungan.

“Ada juga yang sebelumnya jadi sopir, begitu bosnya terang jadi tim Covid-19 langsung diberhentikan karena khawatir, ” katanya.

Dalam bekerja Dedi terdiri atas satu tim beranggotakan delapan orang dan siap melaksanakan penelaahan makam begitu mendapat informasi daripada Dinas Kesehatan Kota Padang. Biasanya ada dua pilihan, pemakaman khusus Covid di Bungus atau tersedia juga pemakaman kaum. Menurutnya, kalau di pemakaman khusus Covid-19 di Bungus, akses dari ambulans ke lokasi tidak terlalu jauh.

Dedi pernah melintasi renggang sangat jauh saat membawa jenazah yang hendak dikubur. “Kalau pemakaman kaum biasanya jauh, bahkan saya pernah membawa jenazah naik perahu karena harus menyeberang sungai, ” katanya.

Tak hanya menggali kubur, Dedi dan pengikut kawan juga mendapatkan tugas menyidik kembali makam untuk memindahkan jenazah. Biasanya ini terjadi karena buatan tes keluar ternyata negatif serta keluarga meminta jenazah dipindahkan.

“Kalau dibilang takut sapa yang tidak takut, tapi kalau tidak kami kerjakan siapa sedang, ” katanya.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Biro Lingkungan Hidup Kota Padang, maka awal November sebanyak sembilan jenazah yang sebelumnya telah dimakamkan di pemakaman khusus Covid-19 di Bungus Teluk Kabung Padang, dipindahkan pada permintaan keluarga.

“Dari sembilan mayat yang dipindahkan tersebut ternyata hanya dua yang nyata Covid-19, tujuh lagi hasil ulangan usapnya negatif, jenazah dipindahkan pada permintaan keluarga, ” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang Mairizon.

Jika tersedia keluarga yang menginginkan jenazah kerabatnya dipindahkan, syarat pertama adalah zaman penguburan dengan pembongkaran kembali sedikitnya 48 hari dan tetap di prosedur dengan melaksanakan protokol Covid.

“Alasannya harus 48 hari agar penyebaran virus bisa dikurangi, tapi bagi mayat yang hasil tes usap negatif sanggup dibongkar dan dipindahkan kapan kendati, ” katanya menegaskan.

Untuk proses pemindahan karena jenazah dalam peti maka yang diangkat adalah peti dan petugas dengan membongkar memakai APD lengkap.

Dia menyebutkan, hingga mula November sudah 172 jenazah penderita Covid-19 yang dimakamkan di TPU Bungus. Untuk pemakaman jenazah penderita Covid-19, pemerintah kota memberikan perut pilihan yaitu di pemakaman khusus di Bungus atau di desa yang disediakan pihak keluarga.

Mairizon menceritakan sebelumnya tahu ada insiden penolakan pemakaman masyarakat di Pegambiran, Kecamatan Lubuk Begalung karena warga setempat merasa tidak nyaman sehingga akhirnya dipindahkan ke Bungus.

“Alasan penolakannya terlalu emosional, makanya kami mengajukan sebaiknya dimakamkan di TPU Bungus, ” katanya.

Tatkala untuk jenazah yang berasal dibanding luar Padang, pemerintah kota meluluskan penguburan di Bungus. Namun beban ditanggung ahli waris. Jika awak Padang, biaya ditanggung oleh Pemkot.

Dia menyebutkan beban penguburan satu jenazah mencapai Rp250. 000 per petugas. Dikerjakan oleh 12 orang anggota tim. Jadi totalnya satu jenazah Rp3 juta. [noe]