Perusahaan Otobus di Malang Manfaatkan Laskar Jadi Cafe Berjalan Keliling Kota

Merdeka. com kepala Perusahaan Otobus (PO) di Kota Malang memanfaatkan armadanya untuk ‘cafe berjalan’ keliling kota. Armada bus yang didesain sedemikian rupa membawa para penumpang menikmati kopi dan snack, sekaligus keindahan kota.

Sepanjang rute perjalanan, para pengunjung mendapatkan penjelasan dari seorang guide seputar kenangan bangunan ikonik. Rute ditempuh sekitar 2, 5 jam perjalanan menggunakan sejumlah bangunan bersejarah di Tanah air Malang.

Romy Yudha, Manager PO Pandawa 87 mengungkapkan, armada bus transportasi wisatanya meninggalkan beroperasi sejak 4 bulan berarakan, sejak wabah Covid-19. Namun sekitar sebulan terakhir, bus cafe dengan diberi nama NgopiUklam87 itu berangkat beroperasi.

“Transportasi wisata tidak ada pendapatan sama sekali ya, akhirnya kita mencoba menjalankan ide ini sebagai pancingan ataupun stimulan agar wisata bisa balik di tengah masa pandemik itu, ” ungkap Romy Yudha, Senin (20/7).

Bus cafe beroperasi setiap hari sejak pangkal Juni lalu dengan keberangkatan daripada Realizm Store, Jalan Soekarno-Hatta Kota Malang. Penumpang dipatok tarif Rp50 Ribu dengan fasilitas kopi & snack.

Kecuali Jumat, trip sebanyak 4 kali yaitu pukul 10. 00 WIB, 13. 00 WIB, 16. 00 WIB dan 19. 00 WIB & khusus Jumat hanya 3 trip yakni pukul 13. 30 WIB, 16. 00 WIB dan 19. 00 WIB.

Arah yang ditempuh meliputi Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Borobudur, Jalan Ahmad Menjalankan, Jalan Raden Intan, Jalan Panji Suroso, Jalan Sunandar Priyo Sudarmo, Jalan Tumengung Suryo, Jalan Panglima Sudirman, Jalan Patimura, Jalan Trunojoyo, Jalan Kertanegara dan Alun-Alun Balai Kota Malang.

Sesudah sesaat di Alun-Alun Balai Kota Malang, perjalanan dilanjutkan ke Ulama Kahuripan, Jalan Semeru, Jalan Idjen Boulevard, Jalan Veteran, Jalan MT Haryono dan kembali ke Berkepanjangan Soekarno-Hatta.

Pengunjung memiliki kesempatan menikmati Alun-Alun Bali Kota Malang, yang menjadi ikon praja. Mereka mendapat kesempatan sejenak berswafoto di pertengahan rute perjalanan tersebut.

“Kita mencoba menghasilkan konsep baru, yang biasa ngopi di restoran atau cafe lazim, kita alihkan ke bus, sambil melihat kondisi Kota Malang. Kita mendukung pariwisata di Kota Sebal kembali pulih, ” jelasnya.

Yudha menegaskan program bus cafe-nya sengaja syarat edukasi memori bagi masyarakat. Tidak sekadar minum kopi tetapi sekaligus mendapatkan pengetahuan seputar tempat-tempat bersejarah di Rengsa.

“Meskipun warga Geruh, kadang tidak tahu sejarah tempat itu, contohnya stasiun Malang misalnya, setiap hari hanya lewat saja, ” katanya.

Tengah itu tempat duduk dalam bus didesain lega dengan saling bertandang dipisahkan sebuah meja. Sementara bus dengan suspensi tinggi membuat pengikut dapat leluasa melihat keluar menggunakan jendela yang lebar.

“Rindu ya kita berwisata. Seruan, bisa keliling kota dari atas bus, jalan-jalan santai banget, ” aku Raisa, salah satu pengikut.

Fasilitas kenyamanan sanggup ditemukan dalam bus bermesin Mercedes tersebut, termasuk karaoke. Selain tersebut juga cocok untuk kegiatan bermedia sosial.

Seluruh penumpang harus melalui prosedur kesehatan secara mencuci tangan dan diukur guru tubuh, sebelum diizinkan masuk ke dalam bus. Penumpang juga diwajibkan mengenakan masker, selain posisi bersandar tetap menjaga physical distancing. [cob]